- Pertimbangan Sebelum Memilih Maklon Parfum dengan Minimum Order
- Tips Memilih Rental Mobil yang Tepat untuk Perjalanan di Surabaya
- Pengalaman Belajar Accounting di Pusat Training Indonesia
- Kesalahan umum pengiriman paket ke luar negeri
- Dari Tali Sepatu Menjadi Peluang Usaha : Edukasi Perhitungan Laba Rugi untuk Meningkatkan Profit
- Pemanfaatan Limbah Tali Tepatu Bekas Menjadi Gantungan Kunci Bernilai Ekonomis
- Review Armada Hiace Premium dari Jakrent
- Pentingnya Wisata Keluarga untuk Membangun Kebersamaan dan Keharmonisan
- Destinasi Wisata Keluarga yang Menyenangkan dan Edukatif untuk Liburan Berkualitas
- Wisata Keluarga Sebagai Pilihan Terbaik untuk Menghabiskan Waktu Berkualitas
Pengembangan Kreatifitas Anak Dalam Membuat Gantungan Kunci (Makrame)
Serta Penerapan Ilmu Budgeting Dalam Kehidupan Sehari hari. Oleh : Andhika

Keterangan Gambar : Kegiatan Pengabdian Mahasiswa Kepada Masyarakat
Depok, Kesadaran mengenai pentingnya literasi keuangan dan pengembangan kreativitas anak mulai menjadi perhatian serius berbagai lembaga pendidikan maupun komunitas sosial di Indonesia. Fenomena meningkatnya perilaku konsumtif pada remaja, rendahnya kemampuan mengelola uang sejak usia muda, hingga minimnya ruang pengembangan keterampilan praktis menjadi persoalan yang kerap disoroti dalam berbagai kajian pendidikan sosial beberapa tahun terakhir. Berbagai artikel edukasi dan laporan pengabdian masyarakat yang berkembang di Indonesia menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis praktik dinilai jauh lebih efektif dalam membentuk kebiasaan hidup mandiri dibandingkan metode teoritis semata. Berangkat dari pemahaman tersebut, mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang menghadirkan sebuah kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang memadukan pelatihan kreativitas seni makrame dengan pengenalan ilmu budgeting sederhana bagi anak-anak Yayasan Al-Kamilah Depok.
Program yang dilaksanakan pada 25 April 2026 tersebut bukan sekadar kegiatan pelatihan biasa, melainkan sebuah upaya edukatif yang dirancang untuk membangun kesadaran anak-anak yayasan terhadap pentingnya keterampilan hidup sejak usia dini. Melalui kegiatan bertema "Pengembangan Kreativitas Anak dalam Membuat Gantungan Kunci Makrame serta Penerapan Ilmu Budgeting dalam Kehidupan Sehari-Hari", para mahasiswa mencoba menghadirkan suasana pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan nyata peserta. Pendekatan semacam ini menjadi relevan di tengah tantangan generasi muda yang semakin akrab dengan budaya konsumtif, namun belum sepenuhnya memahami bagaimana cara mengelola pengeluaran secara sehat dan bertanggung jawab. Pemilihan Yayasan Al-Kamilah Depok sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan juga memiliki alasan yang cukup kuat. Anak-anak yayasan dinilai memiliki keterbatasan akses terhadap kegiatan pengembangan diri yang terstruktur, terutama yang berkaitan dengan kreativitas produktif dan pengelolaan finansial sederhana. Aktivitas keseharian yang cenderung monoton membuat ruang eksplorasi potensi diri menjadi terbatas. Kondisi inilah yang kemudian mendorong tim pelaksana untuk menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga mampu menciptakan pengalaman baru yang menyenangkan sekaligus membangun rasa percaya diri peserta.
Baca Lainnya :
- Dari Tali Sepatu Menjadi Peluang Usaha : Edukasi Perhitungan Laba Rugi untuk Meningkatkan Profit0
- Pemanfaatan Limbah Tali Tepatu Bekas Menjadi Gantungan Kunci Bernilai Ekonomis 0
- Mengenalkan Anak Asrama Dompet Yatim & Dhuafa Jombang Kelola Uang, Lewat Dongeng dan Kreasi Celengan0
- Penguatan Kapasitas SDM UMKM dalam Pemanfaatan Teknologi Digital untuk Pengembangan Usaha0
- MASJID NUR ILAHI DI KEJUTAKAN DENGAN 26 EKOR KURBAN CETAK REKOR DALAM SEJARAH DI DESA 0
Pelatihan makrame dipilih karena dianggap sebagai salah satu bentuk kerajinan tangan yang sederhana, mudah dipelajari, namun tetap memiliki nilai estetika dan nilai ekonomis. Teknik simpul pada tali makrame memungkinkan anak-anak menghasilkan karya kreatif tanpa memerlukan alat yang rumit maupun biaya besar. Kesederhanaan inilah yang menjadikan makrame sangat cocok diterapkan pada lingkungan pembelajaran berbasis komunitas sosial seperti yayasan dan panti asuhan. Tidak hanya melatih keterampilan tangan, proses pembuatan gantungan kunci makrame juga membantu peserta belajar mengenai ketelitian, kesabaran, konsistensi, serta keberanian mengekspresikan ide melalui kombinasi warna dan bentuk karya yang mereka hasilkan sendiri. Suasana pelatihan berlangsung hangat dan interaktif sejak awal kegiatan dimulai. Anak-anak yayasan tampak antusias ketika tim mahasiswa memperkenalkan berbagai alat dan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan gantungan kunci makrame. Tali katun warna-warni, cincin gantungan, hingga berbagai aksesoris sederhana berhasil menarik perhatian peserta yang sebagian besar baru pertama kali mengenal kerajinan tersebut. Para mahasiswa kemudian membagi peserta ke dalam beberapa kelompok kecil agar proses pendampingan berjalan lebih efektif dan suasana belajar terasa lebih akrab.
Pendekatan partisipatif menjadi salah satu kekuatan utama dalam pelaksanaan program ini. Tim pelaksana tidak hanya memberikan penjelasan secara satu arah, tetapi juga aktif mengajak anak-anak berdiskusi, bertanya, hingga mencoba secara langsung setiap tahapan pembuatan kerajinan. Dalam berbagai penelitian pengembangan kreativitas anak, metode demonstrasi dan praktik langsung memang disebut sebagai pendekatan yang mampu meningkatkan fokus belajar sekaligus mempercepat pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Pola tersebut terlihat jelas selama pelaksanaan kegiatan berlangsung, terutama ketika peserta mulai berani mengembangkan pola simpul dan kombinasi warna sesuai kreativitas masing-masing. Menariknya, kegiatan ini tidak berhenti pada aspek kreativitas semata. Tim mahasiswa juga menyisipkan edukasi budgeting sederhana sebagai bagian penting dari proses pembelajaran. Anak-anak diajak memahami bahwa setiap produk yang dibuat memiliki biaya produksi, nilai jual, serta potensi ekonomi apabila dikembangkan dengan baik. Konsep ini diperkenalkan melalui bahasa yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta, mulai dari cara membagi uang saku, membedakan kebutuhan dan keinginan, hingga pentingnya menyisihkan sebagian uang untuk tabungan. Pendekatan praktis seperti ini dinilai lebih mudah dipahami anak-anak dibandingkan pembelajaran finansial yang terlalu teoritis dan kompleks.
Dalam pelaksanaannya, peserta juga diberikan gambaran sederhana mengenai bagaimana sebuah kerajinan dapat memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik. Anak-anak mulai dikenalkan pada konsep menghitung kebutuhan bahan, memperkirakan harga jual produk, hingga memahami bahwa kreativitas dapat menjadi peluang kemandirian di masa depan. Meski disampaikan secara ringan, materi tersebut memiliki makna yang cukup mendalam karena secara tidak langsung membentuk pola pikir produktif sejak usia remaja. Pembelajaran semacam ini menjadi penting, terutama bagi anak-anak yayasan yang nantinya dituntut untuk mampu hidup mandiri ketika memasuki fase dewasa. Respons positif terlihat jelas dari antusiasme peserta sepanjang kegiatan berlangsung. Anak-anak yang awalnya terlihat malu dan pasif perlahan mulai aktif bertanya serta menunjukkan hasil karya mereka dengan penuh kebanggaan. Beberapa peserta bahkan mencoba mengembangkan model gantungan kunci dengan variasi simpul dan warna yang berbeda dari contoh awal yang diberikan oleh tim pelaksana. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan sederhana seperti pelatihan makrame ternyata mampu membuka ruang ekspresi diri yang selama ini jarang mereka rasakan.
Bagi tim mahasiswa sendiri, kegiatan pengabdian ini menjadi pengalaman penting dalam memahami kebutuhan sosial masyarakat secara langsung. Mereka tidak hanya belajar menyusun program berbasis edukasi, tetapi juga belajar membangun komunikasi dengan anak-anak, memahami karakter peserta, serta menyesuaikan metode pembelajaran agar lebih efektif diterima. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembentukan mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Program semacam ini juga memperlihatkan bahwa literasi keuangan tidak selalu harus diajarkan melalui angka-angka rumit dan teori ekonomi yang berat. Pengelolaan keuangan justru dapat dikenalkan melalui aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Ketika peserta memahami bahwa sebuah karya memiliki nilai ekonomi dan membutuhkan proses perencanaan, secara perlahan mereka belajar tentang tanggung jawab, pengendalian diri, serta pentingnya menghargai setiap usaha yang dilakukan. Inilah yang membuat kombinasi antara pelatihan kreativitas dan edukasi budgeting menjadi pendekatan yang dinilai efektif dalam membangun karakter anak secara lebih utuh.
Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di ruang kelas formal. Pengalaman belajar yang lahir dari interaksi sosial, praktik langsung, dan kegiatan kreatif justru sering kali meninggalkan kesan yang lebih mendalam bagi peserta. Melalui pelatihan sederhana yang dilaksanakan selama satu setengah jam tersebut, anak-anak Yayasan Al-Kamilah tidak hanya membawa pulang gantungan kunci hasil karya mereka sendiri, tetapi juga membawa pengalaman baru tentang pentingnya kreativitas, kemandirian, dan pengelolaan keuangan dalam kehidupan sehari-hari.












