- Peningkatan Pengelolaan Keuangan Remaja Melalui Edukasi Menunda Keinginan Untuk Menumbuhkan
- Kritik Kiai Cabul dan pentingnya daya kritis santri
- TOKO GD PUPUK MAHKOTA LADANG TANI LENGKAP DAN MURAH DI SERUYAN
- PENGUATAN LITERASI KEUANGAN MELALUI PELATIHAN PERENCANAAN KEUANGAN SEDERHANA
- PERNYATAAN SIKAP PERSATUAN PEMUDA PEMATANG PANJANG DISKRIMINASI TERHADAP CALON KEPALA DESA
- Pemuda Pematang Panjang Protes Keras Dugaan Diskriminasi Calon Kepala Desa
- Ide Kerja Sampingan Fleksibel untuk Menambah Penghasilan Bulanan
- Kelebihan Menggunakan Maket Dibanding Visual Digital untuk Properti
- Cara Menginterpretasikan Output SPSS agar Mudah Dipahami dan Dijelaskan
- Rekomendasi Kegiatan Outdoor Seru Saat Gathering Kantor Di Bogor
Kritik Kiai Cabul dan pentingnya daya kritis santri
Oleh Rachmatulloh Rusli S.Ag,M.Pd.I

Keterangan Gambar : Santri yang sedang berdiskusi
Tangerang Selatan, Fenomena yang sering disebut sebagai “kiai cabul” sejatinya adalah ironi besar dalam dunia pendidikan dan keagamaan. Ungkap Praktisi Pendidik dan Dakwah yang kerap dipanggil ustdz Rachamatullah, Sosok kiai selama ini diposisikan sebagai figur panutan penjaga moral, pembimbing spiritual, sekaligus sumber otoritas keilmuan. Namun ketika ada oknum yang justru melakukan tindakan asusila, persoalan ini tidak bisa hanya dipandang sebagai kesalahan individu semata. Ia juga membuka pertanyaan besar tentang sistem, budaya, dan relasi kuasa yang berkembang di lingkungan pesantren atau institusi keagamaan.
Salah satu akar masalahnya adalah adanya relasi kuasa yang timpang antara kiai dan santri. Dalam banyak tradisi pesantren, kiai tidak hanya dihormati, tetapi juga “disakralkan” dalam arti tertentu. Ucapannya dianggap kebenaran, tindakannya jarang dipertanyakan, dan posisinya hampir tidak tersentuh kritik. Budaya ta’dzim (penghormatan) yang sejatinya bernilai positif, dalam praktiknya bisa bergeser menjadi kultus individu jika tidak diimbangi dengan kesadaran kritis. Ketika ini terjadi, ruang kontrol sosial menjadi lemah, dan potensi penyalahgunaan kekuasaan semakin besar.
Dalam situasi seperti ini, santri sering kali berada dalam posisi rentan. Mereka dididik untuk patuh, menjaga adab, dan tidak melawan guru. Nilai-nilai ini tentu penting, tetapi jika diajarkan secara kaku tanpa ruang dialog, justru bisa mematikan daya kritis. Akibatnya, ketika terjadi penyimpangan baik berupa kekerasan, eksploitasi, maupun pelecehan santri cenderung diam. Diam karena takut dianggap durhaka, diam karena merasa tidak punya kuasa, atau bahkan diam karena tidak menyadari bahwa yang dialaminya adalah bentuk pelanggaran.
Baca Lainnya :
- 7 Efek Buruk dari Konsumsi Obat Tidur0
- 5 Buah Penangkal Racun dalam Tubuh0
- Bahaya Mendiagnosis Penyakit di Internet0
- Makanan Penyumbang KegemukaN0
- Apakah dia mengalami Depresi? Cek Bicaranya0
Padahal, jika kita kembali pada tradisi intelektual Islam, daya kritis justru merupakan bagian yang sangat penting. Para ulama klasik tidak segan untuk berbeda pendapat, bahkan dengan gurunya sendiri. Dalam literatur keilmuan Islam, kita mengenal perdebatan panjang antara para imam mazhab, diskusi kritis dalam ilmu hadis, hingga tradisi bantah-membantah dalam karya-karya fikih dan teologi. Semua itu menunjukkan bahwa kritik bukanlah sesuatu yang tabu, melainkan bagian dari proses menjaga kebenaran.
Oleh karena itu, penting untuk menumbuhkan kembali daya kritis di kalangan santri. Daya kritis bukan berarti sikap membangkang atau tidak beradab, tetapi kemampuan untuk berpikir jernih, mempertanyakan secara rasional, dan menilai sesuatu berdasarkan nilai-nilai kebenaran. Santri perlu memahami bahwa menghormati kiai tidak berarti menutup mata terhadap kesalahan. Justru dengan sikap kritis yang santun, santri bisa berperan sebagai penjaga moral dalam lingkungan mereka sendiri.
Selain itu, penting juga untuk membangun sistem yang lebih transparan dan akuntabel di lingkungan pesantren. Ketergantungan pada figur tunggal tanpa mekanisme kontrol yang jelas berpotensi menciptakan ruang gelap yang sulit diawasi. Pesantren sebagai lembaga pendidikan perlu memiliki aturan yang tegas terkait perlindungan santri, mekanisme pelaporan yang aman, serta budaya dialog yang sehat. Dengan begitu, kritik tidak hanya menjadi sikap individu, tetapi juga menjadi bagian dari sistem yang mendukung terciptanya lingkungan yang aman dan bermartabat.
Peran masyarakat juga tidak kalah penting. Selama ini, ada kecenderungan untuk menutup-nutupi kasus yang melibatkan tokoh agama demi menjaga nama baik institusi. Padahal, sikap seperti ini justru merugikan dalam jangka panjang. Kritik yang jujur dan terbuka seharusnya dipandang sebagai upaya perbaikan, bukan ancaman. Dengan adanya kontrol sosial yang kuat, kepercayaan publik terhadap institusi keagamaan justru bisa terjaga.
Pada akhirnya, fenomena “kiai cabul” harus menjadi pelajaran bersama bahwa tidak ada manusia yang kebal dari kesalahan. Otoritas keagamaan tidak boleh dijadikan tameng untuk membenarkan perilaku menyimpang. Santri sebagai generasi penerus memiliki peran penting untuk menjaga nilai-nilai agama tetap lurus, salah satunya dengan mengembangkan daya kritis yang sehat.
Menghormati kiai adalah bagian dari adab, tetapi mengkritisi adalah bagian dari tanggung jawab intelektual dan moral. Keseimbangan antara keduanya akan melahirkan santri yang tidak hanya patuh, tetapi juga sadar, berani, dan mampu menjaga kehormatan agama dari penyimpangan. Dengan demikian, pesantren dapat tetap menjadi tempat yang tidak hanya mencetak insan berilmu, tetapi juga berintegritas tinggi.











