Ekspresikan Imajinasi, Ciptakan Karyamu: Mahasiswa Universitas Pamulang
Gelar Kegiatan Kreativitas di Yayasan Mutakabbir Kemang Bogor

By Rusdi 19 Mei 2026, 10:15:36 WIB Seni & Budaya
Ekspresikan Imajinasi, Ciptakan Karyamu: Mahasiswa Universitas Pamulang

Keterangan Gambar : Kegiatan Pengabdian Mahasiswa Akuntansi S1 Kepada Masyarakat


Bogor - Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Akuntansi S1 melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Yayasan Mutakabbir, Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor dengan mengusung tema “Ekspresikan Imajinasi, Ciptakan Karyamu”. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam membantu meningkatkan kreativitas dan rasa percaya diri anak-anak melalui media menggambar dan bercerita.


Yayasan Mutakabbir merupakan lembaga pendidikan nonformal yang menampung peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Kegiatan PKM ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi anak-anak dalam mengekspresikan ide, imajinasi, dan perasaan mereka melalui karya gambar. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk melatih keberanian anak-anak dalam menyampaikan hasil karya yang telah dibuat di depan teman-temannya.

Baca Lainnya :


Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan tim pengabdi kepada 25 peserta didik di Yayasan Mutakabbir, ditemukan bahwa sebagian peserta masih kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat dan mengekspresikan ide mereka di depan orang lain. Selain itu, kegiatan yang dapat menjadi wadah untuk menyalurkan kreativitas dan imajinasi anak juga masih terbatas.


Namun, jika dibedah lebih dalam, survei awal yang dilakukan oleh tim pengabdi masih memiliki beberapa kekurangan yang cukup signifikan dalam memetakan karakter peserta. Kekurangan pertama berkaitan erat dengan esensi kata "Ekspresikan Imajinasi". Survei awal hanya berfokus pada kemampuan umum anak dalam menggambar bebas dari nol, tetapi melewatkan fakta penting bahwa mayoritas anak-anak di yayasan tersebut sebenarnya jauh lebih menyukai konsep mewarnai. Bagi anak-anak, media mewarnai dengan pola yang sudah ada dinilai lebih ramah dan tidak mengintimidasi, sehingga bisa menjadi batu loncatan yang lebih efektif bagi mereka untuk berani mengombinasikan warna sebelum diminta menciptakan gambar sendiri.


Kekurangan kedua dari survei tersebut terletak pada aspek "Ciptakan Karyamu" melalui instrumen kuis edukatif yang disiapkan. Survei awal gagal memetakan disparitas (jarak) kognitif dan tingkat pemahaman akademik anak-anak yang memiliki latar belakang usia sangat kontras. Akibatnya, indikator kuis kreativitas yang dirancang di awal menjadi kurang akurat; tim belum mengantisipasi bagaimana memancing anak SD dan anak SMA untuk menciptakan respons kreatif dalam satu forum yang sama tanpa membuat salah satu pihak merasa bosan atau kesulitan. Kondisi tersebut menjadi dasar evaluasi yang krusial sekaligus tantangan nyata dalam menyukseskan tema “Ekspresikan Imajinasi, Ciptakan Karyamu”.


Kegiatan PKM dilaksanakan selama satu hari dengan jumlah peserta sebanyak 25 siswa yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Kegiatan difokuskan pada pengembangan kreativitas dan kepercayaan diri anak melalui aktivitas menggambar bebas sesuai dengan imajinasi masing-masing peserta.


Selain penyampaian materi singkat mengenai kreativitas dan ekspresi diri, peserta juga diberikan arahan sederhana mengenai cara menuangkan ide dan imajinasi ke dalam bentuk gambar dan cerita. Untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menarik dan tidak membosankan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi ice breaking yang mencakup kuis dan games edukatif yang berkaitan dengan kreativitas.


Dalam pelaksanaan sesi kuis ini, kekurangan survei awal yang kurang matang tadi akhirnya terlihat di lapangan. Kuis yang diberikan sempat mengalami hambatan karena pertanyaan yang diajukan kurang proporsional. Ketika tim ingin memicu anak untuk "menciptakan jawaban kreatif", soal yang diberikan justru terasa terlalu teoritis dan rumit untuk anak usia SD, namun di sisi lain terasa terlalu sederhana bagi peserta tingkat SMP dan SMA. Ketimpangan ini sempat membuat atmosfer kompetisi kreatif menjadi tidak seimbang di awal sesi. Beruntung, tim mahasiswa segera tanggap dan melakukan improvisasi spontan dengan membagi bobot pertanyaan berdasarkan kluster usia agar esensi kuis edukatifnya tetap sasaran.


Begitu pula dengan aktivitas menggambar bebas. Karena survei awal tidak menangkap besarnya minat anak terhadap konsep mewarnai, beberapa anak usia SD sempat bingung dan ragu-ragu saat memegang kertas putih kosong. Tim pengabdi harus memberikan pendampingan ekstra dengan memberikan contoh stimulus visual sederhana agar anak-anak yang awalnya terbiasa mewarnai pola ini, perlahan-lahan berani melepas imajinasinya dan mulai menggoreskan garis pertama mereka sendiri.


Selama kegiatan berlangsung, peserta akhirnya menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam menuangkan ide dan kreativitas mereka ke dalam bentuk gambar. Beragam hasil karya yang dibuat menunjukkan bahwa setiap peserta memiliki imajinasi dan cara berekspresi yang berbeda-beda. Peserta dari jenjang SD terlihat lebih aktif dalam membuat gambar dengan warna-warna cerah dan bentuk yang beragam, sedangkan peserta SMP dan SMA lebih banyak menuangkan ide dan cerita yang lebih detail melalui hasil karya mereka.


Tantangan pelaksanaan kegiatan tidak hanya datang dari aspek teknis materi, melainkan juga dari faktor eksternal. Memasuki waktu sore hingga malam hari, wilayah Bogor diguyur hujan yang cukup deras. Namun, kondisi cuaca yang kurang bersahabat tersebut sama sekali tidak menyurutkan semangat dan keceriaan anak-anak di Yayasan Mutakabbir. Ruangan justru terasa semakin hangat oleh gelak tawa dan antusiasme tinggi dari para peserta yang tetap fokus menyelesaikan karya mereka hingga akhir.


Di akhir kegiatan, seluruh peserta bersama mahasiswa membuat cap sidik jari menggunakan cat akrilik sebagai simbol kebersamaan dan kenang-kenangan dari kegiatan yang telah dilakukan. Karya kolektif ini sekaligus menjadi simbolisasi nyata dari tema besar mereka, di mana setiap goresan sidik jari yang unik mencerminkan ragam imajinasi yang menyatu dalam kebersamaan di tengah hangatnya suasana malam itu. Acara kemudian ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan kepada pihak yayasan dan sesi foto bersama.


Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan, dapat diketahui bahwa metode praktik langsung melalui kegiatan menggambar dan presentasi sederhana cukup efektif dalam membantu peserta meningkatkan kreativitas, keberanian, serta kemampuan mengekspresikan diri. Kegiatan ini juga memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan positif bagi peserta di Yayasan Mutakabbir Kemang Bogor.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment